Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2011

Persahabatan

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku  sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!”  jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?”  tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.”  jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!”  jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.

Sahabat Selamanya

"Bang, baksonya satu", kata Refi kepada abang penjual bakso
"Satu biji doang baksonya fi? Emang cukup?" tanya Rio
"Bukaaan gitu pak Rio..... maksud saya 1 mangkok", jawab Refi
"Oooh, satu mangkok, makanya yang jelas kalau ngomong..... Lho? Bukannya lo kalo makan bakso jarang pake mangkok ya? Hahahaha" kata Rio
"Enak aje! Kalo ga pake mangkok gimana makannya?! Hahaaaha", Refi tertawa
Sore itu mereka berdua baru saja pulang dari sekolahnya, mampir untuk mengisi perut di sebuah gerobak bakso yang berada tidak jauh dari SMA tempat mereka bersekolah. Rio dan Refi memang sudah lama bersahabat, mereka sudah bersahabat sejak Sekolah Dasar, hampir setiap hari mereka selalu menghabiskan waktu dan mengerjakan tugas dari sekolah bersama-sama, bahkan terkadang mereka suka bercerita soal pacarnya masing-masing.
"Wah, baksonya mantap fi!", kata Rio sambil memakan bakso
"Hmm? Masa? Ah sama aja kok kayak bakso yang lain, bulet bulet juga, hahaha", kata Refi
"Ya iyalah bakso bulet ! Masa segitiga!", kata Rio
Mereka pun akhirnya selesai makan.
"Mau langsung pulang aja nih?", tanya Refi kepada Rio
"Ya pulang lah, emangnya mau kemane lagi? mau ngamen?", kata Rio
"ngamen? Ya ampuuun..... Itu kan pekerjaan loo..... Hahaha", kata Refi
"Jiahahaha! Enak aja!", jawab Rio.
Mereka pun pulang, menggunakan sepeda motor milik Rio, karena rumah mereka 1 arah, Refi pun diantar sampai ke depan rumahnya.
Hari pun berganti, Matahari mulai menampakan sinarnya, orang-orang memulai aktifitas seperti biasanya, Rio dengan mengendarai sepeda motornya datang ke rumah Refi untuk berangkat ke sekolah bersama-sama.
"Eeeeh....... ni ojek udah maen nongol aje pagi-pagi..... Hihihi", kata Refi sambil cekikikan
"Wees! Penampilan udh keren-keren gini dibilang ojek, bukan, yang bener itu SINDEN!", kata Rio
"Jiah! Mana ada Sinden naek motor", kata Refi
"Ada aja kali, kan Sinden juga manusia, hahahaaa, udah ah, berangkat, ntar telat", kata Rio
Pada hari-hari itu tidak ada yang special, hingga pada suatu hari Refi tersadar kalau Rio akhir-akhir ini agak menjauhinya, Rio jarang menemuinya lagi, SMS dari Refi pun tak pernah dibalas.
"Yo, kok lo jadi aneh sih? gue ada salah ya sama lo?", isi SMS Refi pada Rio
Namun seperti biasa, tidak ada balasan SMS dari Rio.
Saat hari-hari itu Refi tidak bersama Rio seperti biasanya,dia bergaul bersama teman-temannya yang lain dan dia menjadi lebih sering mengunjungi Toko DVD langganannya, mungkin dia sudah agak melupakan Rio, karena dia menyangka Rio pun sepertinya juga sama.
"Rio kemana? Kok hari-hari ni kamu jarang kelihatan sama dia lagi?", tanya Manda, pacar Refi
"Ga tau deh kemana tu orang, ngilang ga jelas", kata Refi
"Mungkin dia lagi sibuk kali.....", kata Manda
"Mungkin.....", kata Refi
Pada suatu malam Refi melamun di meja belajarnya, matanya tertuju pada sebuah foto, foto dia dan Rio saat masih Sekolah Dasar.
"Fi, makan dulu sana, udah disiapin ibu tuh di meja", kata Ayah Refi
"Nanti aja yah, Refi belum laper...", kata Refi
"Kamu kenapa? Kok ngelamun sambil ngeliatin foto?", tanya Ayahnya
"Ini soal Rio yah, dia sekarang agak menjauh dari Refi", jawab Rio
"Kamu ga usah khawatir, dia pasti punya alasan kenapa sekarang-sekarang ini agak menjauh, kamu harus percaya, seorang sahabat tidak akan pernah meninggalkan sahabatnya tanpa alasan", kata Ayah Refi.
Refi pun sedikit agak tenang sekarang berkat kata-kata Ayahnya itu.
Rio memang benar-benar menjauhi Refi, disekolah pun mereka tidak saling menyapa, tidak ada kata-kata, seperti orang bermusuhan, hingga pada suatu saat ada SMS dari Rio untuk Refi
"Hai fi, pa kabar??", kata Rio di SMS nya
Refi pun membalas,
"Penting lo nanyain kabar gue?", kata Refi
Rio tidak membalas SMSnya lagi, Refi agak bingung dengan sikap Rio, dia bertanya-tanya dalam hati, apakah dia punya salah kepada Rio sehingga Rio menjauhinya?.
Sudah hampir 2 minggu Rio tidak menyapa Refi lagi, tepat pada hari itu adalah tanggal ulang tahun Refi, Refi mendapat ucapan, hadiah, atau bahkan kejutan dari teman-teman disekolahnya, tapi Rio, sahabatnya, tidak ada mengucapkan selamat ulang tahun kepada Refi.
Sore hari Refi pun pulang, begitu sampai dirumahnya, dia langsung berganti baju dan berbaring di sofa dan menonton tv, tidak lama setelah itu, bel rumah pun berbunyi, Refi membuka pintu, dan ternyata Rio datang ke rumahnya.
"Fi, nih, hadiah dari gue, selamat ulang tahun ya! Hehe", kata Rio sambil memberikan sebuah Jaket warna biru dan hitam, Jaket yang selama ini Refi sangat inginkan, Refi pun agak kaget
"Lho? Lo masih inget?", tanya Refi
"Yaiyalah!! Kita udah sahabatan dari kecil, masa hari ulang tahun aja lupa", jawab Rio
"Terus kemaren-kemaren itu kenapa lo kayak ngejauhin gue?", Refi bertanya lagi
"Itu salah satu kejutan gue, biar lo ga tenang menjelang hari ultah lo, hahahaha", kata Rio
"Ah, sadis bener..... ada ada aja lo! Hahaha, thanks ya buat Jaketnya, gue dari dulu pengen banget Jaket ini", Refi tertawa
"Iya sama-sama..... Kita kan sahabat, lo inget janji persahabatan kita waktu masih kecil ga?" tanya Rio
"Kita akan mempertahankan persahabatan ini selamanya, itu kan?", kata Refi
"Iya, haha, simpel amat ya tu Janji persahabatannya", kata Rio
"Simpel n ga ribet, nah loh! Udah kayak Embel-embel kartu GSM aje...", kata Refi
"hahaha! Trus kan ada lagunya, Persahabatan bagai kepocong....", kata Rio
"Kepocong? KEPOMPONG kali pak !!! Hahahaha!", Refi tertawa, lalu dia melanjutkan,
"Ada ada aja ah... Eh eh, dari tadi kita dipintu, masuk yuk, selama lo ngejauh, gue jadi pengoleksi DVD Film Action n Animasi dadakan, mau nonton?", tanya Refi
"Wah rame tuh kayaknya..., mau dah, itung-itung hiburan gratis, hehe", kata Rio.
Pada hari-hari setelah itu, Refi dan Rio selalu bersama-sama lagi, mereka berdua berjanji akan berusaha selalu menjaga persahabatan yang sudah lama mereka dapat itu hingga selama-lamanya.....